Alhamdulillāh, segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam
semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau,
para sahabat, serta seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Mengenal Kitab Ta'limul Muta'allim
Ta'līm al-Muta'allim Ṭarīq at-Ta'allum merupakan salah satu
karya klasik yang sangat dikenal di dunia pendidikan Islam. Sejak
berabad-abad lalu, kitab ini menjadi pedoman bagi para penuntut ilmu
dalam memahami adab, etika, dan metode belajar yang benar. Di berbagai
pesantren di Indonesia, kitab ini termasuk di antara kitab yang paling
banyak dipelajari karena kandungannya yang tetap relevan sepanjang masa.
Berbeda dengan kitab-kitab yang membahas suatu cabang ilmu tertentu,
kitab ini lebih menitikberatkan pada pembentukan karakter seorang
penuntut ilmu. Imam Burhānuddīn Az-Zarnūjī menjelaskan bahwa keberhasilan
dalam belajar tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh
keikhlasan niat, adab kepada guru, kesungguhan, kesabaran, serta
keberkahan yang menyertai proses menuntut ilmu.
Tujuan Penerjemahan
Terjemahan ini disusun dengan tujuan memudahkan pembaca memahami isi
kitab tanpa menghilangkan nuansa bahasa aslinya. Oleh karena itu,
setiap bagian disajikan secara berurutan dalam bentuk teks Arab,
terjemah bahasa Indonesia, penjelasan faedah, serta mufradat penting
agar pembaca dapat mempelajari makna sekaligus mengenal kosakata bahasa
Arab yang digunakan oleh penulis.
Dalam proses penerjemahan, kami berupaya mempertahankan makna yang
dimaksud oleh penulis sedekat mungkin dengan teks asli. Apabila terdapat
ungkapan yang memerlukan penjelasan tambahan, keterangan tersebut
disampaikan pada bagian faedah atau catatan tanpa mengubah isi matan
kitab.
Kami menyadari bahwa hasil terjemahan ini masih memiliki kekurangan.
Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan sebagai bahan perbaikan pada edisi-edisi berikutnya.
Semoga Allah SWT menjadikan ikhtiar sederhana ini sebagai amal saleh,
memberikan manfaat bagi para penuntut ilmu, serta menjadikan ilmu yang
dipelajari sebagai ilmu yang diamalkan dan membawa keberkahan di dunia
maupun di akhirat.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji hanya milik Allah yang telah memuliakan Nabi Adam dengan ilmu
dan amal, serta mengangkat derajat beliau di atas seluruh makhluk.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ,
pemimpin bangsa Arab maupun non-Arab, beserta keluarga dan para sahabat
beliau yang menjadi mata air ilmu dan hikmah.
Imam Az-Zarnuji membuka kitabnya dengan memuji Allah SWT yang telah
memuliakan manusia melalui ilmu dan amal, kemudian bershalawat kepada
Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabat sebagai teladan serta
sumber ilmu dan hikmah. Pembukaan ini menegaskan bahwa ilmu adalah
karunia Allah yang harus dipelajari, diamalkan, dan diwariskan dengan
adab yang mulia.
Penulis membuka kitab dengan Basmalah sebagai adab dalam memulai karya ilmiah.
Kemuliaan manusia terletak pada ilmu yang diamalkan.
Shalawat kepada Nabi ﷺ merupakan tradisi para ulama dalam mengawali penulisan kitab.
Ilmu dan amal merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Ilmu yang benar akan melahirkan amal, sedangkan amal akan menjadi
sempurna dengan ilmu.
Kemuliaan manusia di sisi Allah tidak diukur dari harta, kedudukan,
atau keturunan, tetapi dari ilmu yang bermanfaat dan diamalkan.
Mengawali setiap karya atau aktivitas dengan memuji Allah dan
bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ merupakan adab yang diwariskan
oleh para ulama.
Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabat merupakan teladan utama
dalam menuntut, mengamalkan, dan menyebarkan ilmu kepada umat.
Menuntut ilmu hendaknya diniatkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah
SWT dan sebagai upaya menjaga serta meneruskan warisan keilmuan Islam.
Imam Az-Zarnuji tidak mengatakan bahwa Allah memuliakan manusia dengan harta, kekuasaan, atau keturunan. Beliau justru menegaskan bahwa kemuliaan itu diberikan melalui ilmu dan amal. Pesan ini mengingatkan setiap penuntut ilmu agar tidak menjadikan ilmu sebagai sarana mencari popularitas atau kebanggaan diri, tetapi sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama.
Ketika aku melihat banyak penuntut ilmu pada zaman ini bersungguh-sungguh
dalam mencari ilmu, namun mereka tidak memperoleh manfaat dan buahnya,
yaitu mengamalkan ilmu dan menyebarkannya kepada orang lain.
Mereka terhalang dari manfaat tersebut karena menempuh jalan yang keliru
dan meninggalkan syarat-syaratnya. Barang siapa salah menempuh jalan,
maka ia akan tersesat dan tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan,
sedikit ataupun banyak.
Imam Az-Zarnuji melihat banyak penuntut ilmu yang bersungguh-sungguh belajar,
tetapi tidak memperoleh manfaat dari ilmunya. Hal itu terjadi karena mereka
menempuh cara yang keliru dan mengabaikan adab serta syarat-syarat dalam
menuntut ilmu.
Belajar saja belum tentu menghasilkan ilmu yang bermanfaat.
Buah ilmu adalah diamalkan dan diajarkan.
Menuntut ilmu memiliki adab dan metode yang harus ditempuh.
Kesungguhan dalam belajar saja tidak cukup; seseorang juga harus
menempuh metode yang benar sesuai tuntunan para ulama.
Buah ilmu yang sesungguhnya adalah diamalkan dalam kehidupan dan
disampaikan kepada orang lain dengan penuh tanggung jawab.
Adab, keikhlasan, dan kesabaran merupakan bagian penting dalam proses
menuntut ilmu, bukan sekadar pelengkap.
Menyimpang dari jalan yang benar dalam mencari ilmu dapat menghalangi
seseorang dari memperoleh manfaat dan keberkahannya.
Seorang penuntut ilmu hendaknya senantiasa mengevaluasi niat, metode,
dan adab belajarnya agar tujuan menuntut ilmu dapat tercapai.
Tidak sedikit orang yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar,
menghadiri majelis ilmu, bahkan menguasai banyak pengetahuan. Namun, ilmu
tersebut belum tentu membentuk akhlak, menambah ketakwaan, atau memberi
manfaat bagi orang lain.
Imam Az-Zarnuji mengingatkan bahwa persoalannya
bukan selalu pada kurangnya usaha, melainkan pada cara menempuh jalan ilmu.
Ketika adab, keikhlasan, penghormatan kepada guru, dan metode belajar yang
benar diabaikan, ilmu kehilangan keberkahannya.
Oleh sebab itu, setiap
penuntut ilmu perlu bertanya kepada dirinya: Apakah ilmuku telah
mengubah diriku menjadi lebih baik, atau hanya menambah apa yang aku
ketahui?
Maka aku berkehendak dan terdorong untuk menjelaskan kepada mereka
jalan yang benar dalam menuntut ilmu, berdasarkan apa yang aku temukan
di dalam kitab-kitab serta apa yang aku dengar dari para guruku yang
memiliki ilmu dan hikmah.
Aku mengharapkan doa dari orang-orang yang membaca kitab ini dengan
penuh keikhlasan, semoga Allah menganugerahkan kepadaku keberuntungan
dan keselamatan pada Hari Pembalasan.
Imam Az-Zarnuji menjelaskan bahwa isi kitab ini bukan lahir dari
pemikiran pribadi semata, melainkan disusun berdasarkan warisan ilmu
para ulama yang beliau pelajari melalui kitab-kitab dan para guru.
Beliau juga mengajarkan ketawadhuan dengan memohon doa dari para
pembaca agar memperoleh keselamatan di akhirat.
Ilmu yang benar dibangun di atas rujukan kitab-kitab para ulama dan bimbingan guru yang terpercaya.
Tradisi keilmuan Islam menjunjung tinggi sanad, yaitu kesinambungan ilmu dari guru kepada murid.
Seorang ulama tetap menunjukkan kerendahan hati dengan memohon doa kepada para pembacanya.
Tujuan utama seorang muslim bukan hanya memperoleh ilmu, tetapi juga mengharap keselamatan dan keridaan Allah di akhirat.
Keikhlasan menjadi syarat utama agar ilmu membawa manfaat dan keberkahan.
Belajarlah kepada guru yang memiliki kompetensi dan akhlak yang baik,
sehingga ilmu yang diperoleh memiliki dasar yang kuat.
Jangan merasa cukup hanya dengan membaca buku. Penjelasan guru
sering kali menjadi kunci dalam memahami maksud penulis.
Biasakan menghormati dan mendoakan guru serta para ulama karena
mereka adalah perantara sampainya ilmu kepada kita.
Saat menyampaikan ilmu kepada orang lain, hendaknya tetap rendah
hati dan tidak merasa paling benar.
Jadikan aktivitas belajar sebagai jalan menuju ridha Allah,
bukan semata-mata untuk mencari kedudukan, popularitas, atau
keuntungan duniawi.
Biasakan memohon doa dari orang-orang saleh dan jangan enggan
mendoakan sesama muslim, karena doa merupakan salah satu sebab
datangnya keberkahan.
Imam Az-Zarnuji menunjukkan akhlak seorang ulama yang patut diteladani.
Beliau tidak menulis kitab ini untuk mencari kemasyhuran atau menunjukkan
keluasan ilmunya. Sebaliknya, beliau terdorong oleh keinginan untuk
membimbing para penuntut ilmu agar menempuh jalan belajar yang benar,
berdasarkan warisan ilmu yang beliau pelajari dari kitab-kitab para ulama
dan bimbingan guru-gurunya.
Di akhir kalimatnya, beliau tidak meminta pujian ataupun penghormatan,
melainkan memohon doa dari para pembaca yang ikhlas. Hal ini mengajarkan
bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula kerendahan hatinya.
Seorang alim menyadari bahwa ilmu adalah karunia Allah, sedangkan
keberhasilan dan keselamatan di akhirat hanya dapat diraih dengan rahmat
dan pertolongan-Nya.
Sebagai penuntut ilmu, sudah sepantasnya kita tidak hanya berusaha mencari
ilmu sebanyak-banyaknya, tetapi juga menjaga adab kepada guru, menghargai
para ulama yang telah mewariskan ilmunya, serta membiasakan mendoakan
mereka. Dari adab inilah lahir keberkahan ilmu yang akan menerangi hati,
memperbaiki amal, dan mengantarkan kepada keselamatan di dunia maupun di
akhirat.
Setelah memohon petunjuk kepada Allah Ta'ala melalui istikharah dalam
penyusunan kitab ini, aku memberinya nama
"Ta'līm al-Muta'allim Ṭarīq at-Ta'allum",
yang berarti "Pedoman Bagi Penuntut Ilmu dalam Menempuh Jalan Belajar."
Sebelum menyelesaikan penulisan kitabnya, Imam Az-Zarnuji terlebih
dahulu memohon petunjuk kepada Allah SWT. Setelah itu, beliau memberi
nama kitab ini Ta'līm al-Muta'allim Ṭarīq at-Ta'allum, yang
mencerminkan tujuan utama kitab, yaitu membimbing para penuntut ilmu
agar mengetahui adab dan metode belajar yang benar.
Setiap urusan penting hendaknya diawali dengan memohon petunjuk kepada Allah SWT.
Istikharah bukan hanya dilakukan ketika memilih suatu perkara duniawi, tetapi juga dalam urusan dakwah, pendidikan, dan penyusunan karya ilmiah.
Nama sebuah kitab hendaknya mencerminkan isi dan tujuan pembahasannya sehingga mudah dipahami oleh pembaca.
Imam Az-Zarnuji menegaskan bahwa kitab ini bukan sekadar mengajarkan ilmu, tetapi mengajarkan jalan yang benar dalam memperoleh ilmu.
Biasakan melibatkan Allah SWT dalam setiap keputusan penting dengan
memperbanyak doa dan memohon petunjuk-Nya.
Jangan terburu-buru mengambil keputusan sebelum mempertimbangkannya
dengan baik dan memohon bimbingan kepada Allah SWT.
Dalam berkarya atau berdakwah, niatkan seluruh usaha sebagai bentuk
ibadah kepada Allah, bukan semata-mata untuk memperoleh pujian
manusia.
Seorang penuntut ilmu hendaknya lebih memperhatikan proses dan adab
belajar daripada sekadar mengejar banyaknya ilmu yang diperoleh.
Pilihlah metode belajar yang benar, karena keberhasilan menuntut
ilmu sangat dipengaruhi oleh cara menempuhnya.
Sebelum menulis kitab ini, Imam Az-Zarnuji terlebih dahulu memohon
petunjuk kepada Allah SWT. Hal ini mengajarkan bahwa setiap urusan
penting hendaknya diawali dengan doa dan ketergantungan kepada-Nya,
bukan semata-mata mengandalkan kemampuan diri. Sebab, ilmu yang
bermanfaat lahir dari hati yang ikhlas, usaha yang sungguh-sungguh,
dan bimbingan Allah SWT.
Tentang sebab-sebab datangnya rezeki, penghalangnya, hal-hal yang menambah umur, dan yang menguranginya.
Untuk memudahkan para penuntut ilmu memahami adab dan metode belajar,
Imam Az-Zarnuji menyusun kitab ini ke dalam tiga belas bab yang saling
berkaitan. Urutan pembahasannya disusun secara sistematis, dimulai dari
memahami hakikat ilmu hingga sebab-sebab datangnya keberkahan dalam
kehidupan seorang penuntut ilmu.
Bab
Judul
Pembahasan
I
Hakikat Ilmu, Fikih dan Keutamaannya
Menjelaskan pengertian ilmu, fikih serta keutamaan ilmu dalam Islam.
II
Niat dalam Menuntut Ilmu
Pentingnya meluruskan niat agar belajar bernilai ibadah.
III
Memilih Ilmu, Guru, Teman dan Istiqamah
Panduan memilih bidang ilmu, guru, sahabat belajar serta menjaga keteguhan.
IV
Mengagungkan Ilmu dan Ahlinya
Adab menghormati ilmu, guru dan para ulama.
V
Kesungguhan dan Semangat Belajar
Pentingnya kerja keras, ketekunan dan cita-cita yang tinggi.
VI
Memulai Belajar dan Mengaturnya
Tata cara memulai pelajaran, kadar belajar dan urutannya.
VII
Tawakal
Menjadikan tawakal sebagai pendamping ikhtiar dalam belajar.
VIII
Waktu yang Tepat untuk Belajar
Menjelaskan waktu-waktu yang paling baik untuk menuntut ilmu.
IX
Kasih Sayang dan Nasihat
Membangun ukhuwah, saling menyayangi dan saling menasihati.
X
Mengambil Manfaat dan Adab
Adab mengambil ilmu dan memperoleh manfaat dari guru.
XI
Wara' dalam Menuntut Ilmu
Menjaga diri dari perkara syubhat dan maksiat agar ilmu diberkahi.
XII
Sebab Kuat Hafalan dan Penyebab Lupa
Faktor-faktor yang membantu hafalan serta hal-hal yang menyebabkan lupa.
XIII
Sebab Datangnya Rezeki dan Keberkahan Umur
Membahas sebab-sebab bertambahnya rezeki, keberkahan umur, serta hal-hal yang menghalanginya.
Imam Az-Zarnuji tidak menyusun pembahasan kitab ini secara acak. Setiap bab
memiliki keterkaitan dan membentuk sebuah perjalanan yang harus ditempuh oleh
seorang penuntut ilmu.
📖 Memahami Hakikat Ilmu
❤️ Meluruskan Niat
👨🏫 Memilih Guru dan Teman
🤲 Mengagungkan Ilmu dan Guru
🔥 Bersungguh-sungguh dalam Belajar
📚 Mengatur Metode Belajar
🕊️ Bertawakal kepada Allah
⏰ Memanfaatkan Waktu Belajar
🤝 Menjalin Ukhuwah dan Nasihat
🌱 Mengambil Adab dan Manfaat Ilmu
🛡️ Menjaga Wara'
🧠 Menjaga Hafalan
🌿 Meraih Keberkahan Rezeki dan Umur
Susunan bab dalam kitab ini menunjukkan bahwa keberhasilan menuntut
ilmu bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan. Imam Az-Zarnuji
mengawali perjalanan seorang penuntut ilmu dengan memperbaiki niat,
memilih guru, menjaga adab, membangun kesungguhan, hingga menanamkan
tawakal kepada Allah SWT.
Setelah fondasi itu kuat, barulah beliau
membahas berbagai sebab yang mendukung keberhasilan belajar, seperti
menjaga hafalan, memilih waktu yang tepat, dan mengupayakan
keberkahan rezeki. Hal ini mengajarkan bahwa ilmu yang bermanfaat
lahir dari perpaduan antara akhlak, usaha, dan pertolongan Allah SWT.
Taufikku, pertolongan dan keberhasilan yang Allah berikan kepadaku
إِلَّا
Kecuali
بِاللَّهِ
Dengan pertolongan Allah / karena Allah
عَلَيْهِ
Kepada-Nya
تَوَكَّلْتُ
Aku bertawakal (berserah diri setelah berikhtiar)
وَإِلَيْهِ
Dan kepada-Nya
أُنِيبُ
Aku kembali, bertaubat, dan berserah diri kepada-Nya
Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah.
Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku kembali.
Imam Az-Zarnuji menutup muqaddimah kitab ini dengan menyerahkan seluruh
keberhasilan kepada Allah SWT. Beliau menegaskan bahwa setiap taufik
berasal dari Allah semata, sedangkan seorang hamba hanya dapat
berikhtiar, bertawakal, dan senantiasa kembali kepada-Nya.
Segala keberhasilan merupakan taufik dan karunia dari Allah SWT.
Tawakal adalah penyempurna ikhtiar, bukan alasan untuk meninggalkan usaha.
Seorang mukmin hendaknya selalu mengembalikan segala urusan kepada Allah SWT.
Kerendahan hati merupakan salah satu akhlak para ulama; mereka tidak menyandarkan keberhasilan kepada kemampuan diri.
Berusahalah dengan sungguh-sungguh, namun jangan pernah bergantung
kepada kemampuan diri semata.
Biasakan mengakhiri setiap pekerjaan dengan bersyukur kepada Allah
atas segala pertolongan dan kemudahan yang diberikan.
Jadikan tawakal sebagai sikap hati setelah melakukan ikhtiar yang
terbaik.
Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula rasa butuhnya
kepada pertolongan Allah SWT.
Muqaddimah ini ditutup sebagaimana ia diawali, yaitu dengan menghadirkan
Allah SWT. Imam Az-Zarnuji mengajarkan bahwa ilmu yang diberkahi tidak
lahir dari rasa bangga terhadap kecerdasan, melainkan dari hati yang
senantiasa bergantung kepada Allah. Sebab, tanpa taufik-Nya, ilmu yang
dipelajari tidak akan membawa manfaat, dan tanpa pertolongan-Nya, setiap
usaha tidak akan mencapai tujuan yang diharapkan.
Ilmu yang bermanfaat bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga
menumbuhkan kerendahan hati. Semakin dalam seseorang mengenal ilmu,
semakin ia menyadari bahwa seluruh keberhasilan hanyalah karena
taufik dan pertolongan Allah SWT.