- Diposting oleh : Admin
- pada tanggal : Minggu, Juli 05, 2026
Minggu, 5 Juli 2026 pukul 08.15 WIB, menjadi hari yang tak akan pernah bisa kami lupakan.
Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Allah memanggil pulang putri kami tercinta, Ameera Qisthy Nabigh binti Sodikin S - Nailis S, yang akrab kami panggil Qisna.
Bukan hanya seorang anak yang pergi.
Hari itu, sebagian hati Abah dan Mamah ikut pergi bersamamu.
Rumah yang Kini Tak Lagi Sama
Qisna sayang...
Rumah ini masih sama.
Kamarmu masih sama.
Tas sekolahmu masih berada di tempatnya.
Mukena kecilmu masih tergantung.
Al-Qur'anmu masih tersimpan rapi di tempat yang biasa kau ambil setiap selesai shalat.
Semuanya masih ada.
Hanya satu yang berubah.
Engkau tidak lagi ada di dalamnya.
Yang paling berat ternyata bukan ketika kami mengantarkanmu ke pemakaman.
Yang paling berat adalah ketika kami pulang ke rumah...
Membuka pintu...
Lalu menyadari...
Engkau tidak lagi berlari menyambut kami.
Besok Pagi Tak Akan Sama Lagi
Besok pagi...
Tidak ada lagi yang Abah bangunkan untuk shalat Subuh.
Tidak ada lagi yang Mamah siapkan seragam sekolahnya.
Tidak ada lagi bekal kecil yang Mamah masukkan ke dalam tasmu.
Tidak ada lagi yang Abah antar ke sekolah sambil bercanda sepanjang perjalanan.
Tidak ada lagi pesanmu,
"Abah... nanti jemputnya jangan kesiangan ya..."
Tidak ada lagi wajah ceria yang berlari keluar gerbang sekolah sambil melambaikan tangan ketika melihat Abah datang.
Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa.
Kini justru menjadi hal yang paling kami rindukan.
Bidadari Kecil yang Dicintai Banyak Orang
Allah hanya menitipkanmu kepada kami selama 9 tahun 8 bulan.
Namun dalam waktu sesingkat itu, engkau meninggalkan jejak yang begitu dalam.
Engkau selalu ceria.
Mudah berteman.
Mudah tersenyum.
Mudah mengucapkan terima kasih.
Mudah meminta maaf.
Dan selalu membuat orang lain merasa nyaman berada di dekatmu.
Hari ini kami benar-benar menyadari...
Begitu banyak orang yang mencintaimu.
Tangis guru-gurumu.
Tangis teman-temanmu.
Tangis keluarga.
Tangis para tetangga.
Dan begitu banyak orang yang mengantarkanmu ke tempat peristirahatan terakhirmu menjadi saksi...
Bahwa hidupmu yang singkat telah meninggalkan cinta di banyak hati.
Suara yang Akan Selalu Kami Rindukan
Allah juga menganugerahkan kepadamu suara yang begitu merdu.
Sampai hari ini, telinga kami masih seolah mendengar lantunan suaramu.
Saat engkau menyanyikan "Syukron Guruku", banyak hati yang tersentuh.
Saat engkau melantunkan "Izinkan Aku Menjadi Hafidz-Mu", kami melihat doa seorang anak yang begitu mencintai Al-Qur'an.
Dan pada penampilan terakhirmu di acara Khatmil Qur'an 2026, engkau membawakan lagu "Cahaya Al-Hikmah".
Tak ada yang menyangka...
Itulah salam perpisahanmu kepada kami.
Kini setiap kali video itu kami putar...
Yang terdengar bukan hanya suaramu.
Tetapi kerinduan yang memenuhi rumah ini.
Prestasi yang Menjadi Amal Jariyah Kenangan
Di tahun terakhirmu bersama kami, 2026, engkau mempersembahkan prestasi yang membuat Abah dan Mamah begitu bangga.
- Terbaik I Khataman Al-Qur'an Tahun 2026.
- Peringkat I di sekolah.
Namun kini kami menyadari...
Bukan hanya prestasimu yang membuat orang mengenangmu.
Melainkan akhlakmu yang lembut.
Senyummu yang menenangkan.
Suaramu yang begitu kami rindukan.
Dan ketulusanmu yang meninggalkan jejak di hati setiap orang yang mengenalmu.
"TABUNGAN HAJI BERSAMA ABAH MAMAH"
Nak...
Di antara semua peninggalanmu...
Piala-piala itu bukan yang paling membuat kami menangis.
Piagam-piagam itu juga bukan.
Yang paling menghancurkan hati kami justru beberapa dompet kertas buatan tanganmu.
Kau lipat sendiri.
Kau pisahkan uang sesuai nominalnya.
Lalu dengan tulisan tangan kecilmu, kau menulis...
"TABUNGAN HAJI BERSAMA ABAH MAMAH."
Saat itu kami hanya tersenyum melihat kepolosanmu.
Kami mengira itu hanya permainan seorang anak.
Hari ini...
Setiap membaca tulisan itu, hati kami kembali runtuh.
Di usia yang baru sembilan tahun, ternyata engkau sudah memikirkan impian yang begitu mulia.
Bukan membeli mainan.
Bukan membeli sesuatu yang kau sukai.
Tetapi ingin mengajak Abah dan Mamah menjadi tamu Allah di Baitullah.
Nak...
Ternyata bahkan dalam impianmu, kami selalu ada.
Surat Cinta dari Abah dan Mamah
Sampai Bertemu Lagi di Surga
Kami tidak tahu mengapa Allah memanggilmu secepat ini.
Namun kami percaya...
Allah tidak pernah salah memilih siapa yang lebih dahulu pulang.
Kami hanya sedang belajar ikhlas.
Belajar menerima.
Belajar melanjutkan hidup dengan rindu yang mungkin tidak akan pernah selesai.
Jika dahulu engkau menabung agar kita bisa pergi ke Baitullah bersama...
Kini Abah dan Mamah akan menabung doa, amal, dan kesabaran.
Semoga Allah mempertemukan kita kembali.
Bukan hanya di depan Ka'bah.
Tetapi di tempat yang jauh lebih indah.
Di surga-Nya.
Saat itu...
Semoga engkau berlari menghampiri kami dengan senyum yang selama ini kami rindukan.
Lalu berkata,
"Abah... Mamah... ayo, kita bersama lagi."
Selamat jalan, bidadari kecil kami, Ameera Qisthy Nabigh binti Sodikin.
Terima kasih telah mengajarkan kami bahwa cinta tidak diukur dari lamanya kebersamaan, tetapi dari bekas yang ditinggalkannya di hati.
Engkau telah pulang kepada Rabb yang paling mencintaimu.
Sedangkan kami...
Akan terus mencintaimu dalam setiap doa.