- Diposting oleh : Admin
- pada tanggal : Senin, Juli 27, 2026
Banyak orang merasa khawatir tentang masa depan, pekerjaan, usaha, bahkan kebutuhan hidup sehari-hari. Padahal Islam mengajarkan bahwa rezeki setiap makhluk telah berada dalam ilmu dan ketetapan Allah SWT. Lalu, apakah itu berarti manusia cukup menunggu tanpa bekerja? Bagaimana cara menjemput rezeki yang halal dan penuh keberkahan?
Allah Menjamin Rezeki Seluruh Makhluk
Allah SWT berfirman:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
Latin
Wa mā min dābbatin fil-arḍi illā 'alallāhi rizquhā wa ya'lamu mustaqarrahā wa mustauda'ahā, kullun fī kitābin mubīn.
Artinya
"Tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua itu tertulis dalam Kitab yang nyata." (QS. Hūd : 6)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa seluruh makhluk hidup berada dalam pengawasan Allah SWT. Tidak ada seekor burung, ikan, semut, ataupun manusia yang luput dari jaminan rezeki-Nya.
Tafsir QS. Hūd Ayat 6
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, Allah SWT mengabarkan bahwa Dia menjamin rezeki seluruh makhluk dan mengetahui tempat tinggal serta tempat kembali mereka. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari ilmu Allah.
Sementara itu, Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa Allah mengetahui seluruh keadaan makhluk-Nya dan telah menetapkan rezeki mereka sesuai hikmah dan kehendak-Nya.
Referensi: Tafsir Ibnu Katsir pada QS. Hūd ayat 6 dan Tafsir Jalalain pada QS. Hūd ayat 6.
Allah adalah Ar-Razzāq (Maha Pemberi Rezeki)
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Latin
Innallāha huwar-razzāqu żul-quwwatil-matīn.
Artinya
"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (QS. Adz-Dzāriyāt : 58)
Pekerjaan, usaha, jabatan, maupun bisnis hanyalah perantara. Hakikat pemberi rezeki hanyalah Allah SWT.
Dalil Hadis tentang Rezeki dalam Islam
Selain Al-Qur'an, Rasulullah ﷺ juga memberikan banyak tuntunan mengenai rezeki, tawakal, silaturahmi, dan sedekah. Berikut beberapa hadis shahih yang menjadi landasan dalam pembahasan rezeki menurut Islam.
1. Tawakal kepada Allah dalam Mencari Rezeki
Latin
Lau annakum tawakkalūna 'alallāhi ḥaqqa tawakkulihī laruziqtum kamā yurzaquṭ-ṭair, taghdū khimāṣan wa tarūḥu biṭānan.
Artinya
"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang."
Derajat Hadis: Shahih.
Referensi: Sunan At-Tirmidzi, Kitab Az-Zuhd, Hadis No. 2344; dinilai shahih oleh Imam At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani.
Hadis ini menunjukkan bahwa tawakal bukan berarti berpangku tangan. Burung tetap keluar dari sarangnya setiap pagi untuk mencari makan. Demikian pula seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja, berusaha, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
2. Silaturahmi Membawa Keberkahan Rezeki
Latin
Man aḥabba an yubsatha lahu fī rizqihī wa yunsa'a lahu fī atharihī falyaṣil raḥimah.
Artinya
"Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi."
Derajat Hadis: Muttafaq 'Alaih (Shahih).
Referensi: Shahih al-Bukhari, Kitab Al-Adab, Hadis No. 5986; Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah.
Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga hubungan baik dengan keluarga merupakan salah satu sebab datangnya keberkahan rezeki dan keberkahan umur menurut syariat.
3. Sedekah Tidak Mengurangi Harta
Latin
Mā naqaṣat ṣadaqatun min māl.
Artinya
"Sedekah tidak akan mengurangi harta."
Derajat Hadis: Shahih.
Referensi: Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, Hadis No. 2588.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa sedekah tidak menjadikan seseorang miskin. Sebaliknya, Allah memberikan keberkahan, mengganti, dan melipatgandakan pahala bagi orang yang bersedekah dengan ikhlas.
Hikmah Hadis-Hadis tentang Rezeki
- Rezeki berasal dari Allah SWT, tetapi harus dijemput dengan ikhtiar yang halal.
- Tawakal adalah menyandarkan hati kepada Allah setelah berusaha semaksimal mungkin.
- Silaturahmi menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan rezeki.
- Sedekah tidak mengurangi harta, bahkan menjadi sebab turunnya keberkahan dari Allah.
- Seorang Muslim hendaknya menghindari rasa putus asa dan tetap optimis terhadap rahmat Allah SWT.
Apakah Rezeki Sudah Ditentukan?
Ya. Islam mengajarkan bahwa Allah telah menetapkan rezeki setiap makhluk. Namun ketetapan tersebut bukan alasan untuk bermalas-malasan.
Seorang Muslim tetap diperintahkan bekerja, mencari nafkah yang halal, berusaha secara maksimal, kemudian bertawakal kepada Allah SWT.
Mengapa Rezeki Terasa Sempit?
Dalam kehidupan, seseorang bisa saja mengalami masa sulit. Kondisi tersebut dapat menjadi ujian, sarana meningkatkan kesabaran, atau kesempatan untuk memperbaiki diri.
Karena itu seorang Muslim dianjurkan memperbanyak istigfar, memperbaiki ibadah, menjaga kejujuran, serta memperkuat tawakal kepada Allah.
Amalan Pembuka Rezeki Menurut Islam
- Bertakwa kepada Allah SWT.
- Menjaga salat lima waktu.
- Memperbanyak istigfar.
- Bersedekah dengan ikhlas.
- Menjalin silaturahmi.
- Mencari nafkah yang halal.
- Menjauhi riba.
- Menjaga amanah dan kejujuran.
- Memperbanyak doa.
- Bertawakal setelah berikhtiar.
Hikmah Meyakini Allah sebagai Ar-Razzāq
- Hati menjadi lebih tenang.
- Tidak mudah iri kepada orang lain.
- Semangat bekerja dengan cara halal.
- Tidak putus asa ketika mengalami kesulitan.
- Gemar bersyukur dan bersedekah.
- Lebih yakin terhadap ketetapan Allah SWT.
Kesimpulan
Rezeki merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT yang penuh hikmah. Seorang Muslim tidak diperintahkan hanya menunggu datangnya rezeki, tetapi juga diwajibkan berusaha dengan cara yang halal, memperbanyak doa, dan bertawakal kepada-Nya.
Keyakinan bahwa Allah adalah Ar-Razzāq akan melahirkan ketenangan, optimisme, dan rasa syukur dalam menjalani kehidupan.
Semoga Allah SWT melapangkan rezeki kita, menjadikannya halal, berkah, dan bermanfaat, serta menjauhkan kita dari segala bentuk rezeki yang tidak diridhai-Nya.
Referensi
- Al-Qur'an Surah Hūd ayat 6.
- Al-Qur'an Surah Adz-Dzāriyāt ayat 58.
- Tafsir Ibnu Katsir, penafsiran QS. Hūd ayat 6.
- Tafsir Jalalain, penafsiran QS. Hūd ayat 6.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Artikel Terbaru
Temukan artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Jangan lewatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan Anda dengan konten berkualitas kami.
Baca Artikel Terbaru