- Diposting oleh : Admin
- pada tanggal : Minggu, Juni 28, 2026
Mengajak anak murajaah Al-Qur'an seharusnya menjadi momen yang penuh kehangatan, bukan sumber ketegangan. Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar menjadikan waktu murajaah sebagai ajang menuntut kesempurnaan. Akibatnya, anak justru merasa takut salah, enggan mengulang hafalan, bahkan kehilangan semangat mencintai Al-Qur'an.
Padahal, tujuan utama murajaah bukan sekadar menjaga hafalan tetap kuat, tetapi juga menumbuhkan kedekatan anak dengan kalam Allah.
1. Mulailah dengan Suasana yang Menyenangkan
Sebelum murajaah dimulai, ciptakan suasana yang nyaman. Duduk berdampingan, berikan senyum, dan hindari membuka sesi dengan kalimat yang membuat anak tegang seperti, "Jangan sampai salah ya!"
Sebaliknya, katakan:
"Yuk, kita sama-sama mengulang hafalan hari ini. InsyaAllah Allah senang melihat usaha kita."
Kalimat sederhana seperti ini membuat anak merasa didampingi, bukan dihakimi.
2. Fokus Mengapresiasi Usaha, Bukan Hanya Hasil
Ketika anak mampu menghafal satu ayat dengan baik, berikan pujian yang tulus.
Misalnya:
"MasyaAllah, tadi bacaanmu sudah lebih lancar daripada kemarin."
Pujian terhadap proses akan membuat anak lebih percaya diri dan terus ingin belajar.
3. Jangan Langsung Memotong Saat Anak Salah
Banyak orang tua spontan menghentikan bacaan ketika anak keliru. Padahal, hal ini bisa membuat konsentrasi anak buyar.
Biarkan ia mencoba mengingat terlebih dahulu. Jika masih belum berhasil, berikan petunjuk dengan lembut, bukan teguran.
Anak akan belajar berpikir dan memperbaiki kesalahannya sendiri.
4. Buat Murajaah Menjadi Aktivitas Keluarga
Sesekali ajak seluruh anggota keluarga ikut murajaah bersama. Orang tua juga bisa membaca ayat yang sedang dihafal anak.
Saat anak melihat ayah dan ibunya juga belajar Al-Qur'an, ia akan merasa bahwa murajaah adalah kebiasaan keluarga, bukan sekadar tugas sekolah atau TPQ.
5. Singkat Tetapi Rutin
Daripada satu jam penuh yang melelahkan, lebih baik 10–15 menit setiap hari.
Murajaah yang konsisten jauh lebih efektif daripada belajar lama tetapi jarang dilakukan.
6. Hindari Membandingkan Anak
Kalimat seperti:
"Temanmu sudah hafal satu juz."
"Kakakmu dulu lebih cepat."
Sering kali justru mematahkan semangat anak.
Setiap anak memiliki kemampuan, kecepatan belajar, dan cara memahami yang berbeda.
7. Tutup dengan Doa dan Pelukan
Setelah selesai murajaah, akhiri dengan doa bersama dan pelukan hangat.
Biarkan anak pulang dari sesi murajaah dengan perasaan bahagia. Perasaan positif inilah yang akan membuatnya rindu kembali membuka Al-Qur'an keesokan harinya.
Dalil Al-Qur'an
Allah Ta'ala berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْFabimā raḥmatin minallāhi linta lahum.
"Maka berkat rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut kepada mereka." (QS. Ali 'Imran: 159)
Hadis Rasulullah ﷺ
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُInna ar-rifqa lā yakūnu fī syai'in illā zānahu.
"Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya."
Referensi: Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, hadis no. 2594. Derajat: Shahih.
Penutup
Anak tidak hanya mengingat ayat yang dihafalnya. Ia juga akan mengingat bagaimana perasaan yang ia rasakan saat belajar Al-Qur'an bersama orang tuanya.
Mari jadikan murajaah sebagai waktu penuh cinta, doa, dan kebersamaan. Sebab, hati yang tumbuh bersama kasih sayang akan lebih mudah mencintai Al-Qur'an sepanjang hayat.
Artikel Terbaru
Temukan artikel menarik lainnya yang bisa Anda baca. Jangan lewatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan Anda dengan konten berkualitas kami.
Baca Artikel Terbaru